Home / Uncategorized / Media Diharap Lebih Berimbang ketika Memberitakan LGBTI
Heboh-di-Sosial-Media-FB-Pernikahan-LGBT-Dilegalkan-AS-Sederet-Seleb-Top-Dunia-Lady-Gaga-Hingga-Katy-Perry-Antusias

Media Diharap Lebih Berimbang ketika Memberitakan LGBTI


Ilustrasi

JAKARTA, KABARPARLEMEN.COM- Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia dan
United Nations Development Program (UNDP), menggelar diskusi terarah dengan 20
editor, membahas isu LGBTI (lesbian, gay, biseks, transgender, interseks) . 

Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia mengatakan LGBT adalah isu
sensitive yang tidak semua media dapat memberitakan secara berimbang.
Sering kali karena
pertimbangan traffic, media terjebak menggarap isu LGBT dengan mengedepankan
sisi sensasional dan bombastis. “Editor meeting ini untuk membangun
kesepahaman bagaimana media  memuat isu LGBTI agar lebih berimbang dan
meningkatkan kualitas pemberitaan,” kata Suwarjono, Selasa (6/10) di Hotel
Sari Pan Pacific, Jakarta Pusat.
Kegiatan ini adalah
kampanye untuk media “Better Journalism for Being LGBTI in Asia-II di
Indonesia”. Sebagai bekal pertemuan editor ini, AJI Indonesia, melakukan pemetaan
awal media (scanning media) bertujuan mendapat informasi awal bagaimana media
menempatkan kelompok LGBTI dalam pemberitaan.
Riset mengambil
periode pemberitaan 15 Juli – 20 Agustus 2015. Hasil pemetaan pemberitaan
terhadap 20 media cetak dan online yang terbit secara nasional serta lokal,
muncul 113 pemberitaan. Media online paling banyak menurunkan berita tentang
LGBTI mencapai 107 kali (86,99persen). Sedangkan media cetak hanya menurunkan
16 berita (13,01persen).
Jika menilik dari
kategori berita, media cetak dan online, masalah yang menarik bagi media
terkait upaya memperjuangkan pengakuan identitas mereka di ruang publik dan
mengakses hak ekonomi (28, 46 persen). Berita tentang perjuangan mendapatkan
hak mengakses ekonomi ini sering kali tidak tunggal, tapi juga diikuti dengan
gambaran ekses dari upaya mendapatkan hak tersebut. Ketika memperjuangkan hak ekonomi,
tampak dalam berita LGBT rentan mendapatkan kekerasan non seksual di ruang
publik. Contoh kasus itu juga muncul dalam berita tentang Caitlyn Jenner dan
Dena Rahman.
Dalam memberitakan
LGBT jenis tulisan yang sering muncul adalah straight news atau berita cepat
mencapat 72,97 persen. Sedangkan model berita feature 11,71 persen dan berita indepth
news hanya 7,21 persen.
Ini bisa jadi karena
dipengaruhi sumber berita. Mayoritas media menurunkan berita karena bersadarkan
pada peristiwa, bukan berdasarkan ide. Tidak hanya berita tentang LGBT di dalam
negeri tapi juga di luar negeri.
Berita berdasarkan ide
dengan model tulisan lebih mendalam atau indepth news mayoritas berasal dari
kantor berita Australia, ABC online. Media ini sering menurunkan berita tentang
LGBT di Australia dari beberagam sisi, misalnya upaya memperjuangkan identitas
di ruang publik, hak mengakses kesehatan, kelompok LGBT rentan kekerasan termasuk
dari pasangan, dan tantangan kelompok LGBT mendapatkan akses ekonomi yang layak
dengan lebih berimbang.
Di dalam negeri, ABC
telah bekerja sama dengan beberapa media online sebagai penyuplai konten dengan
kanal khusus, Autralian Plus. “Sedangkan berita kelompok LGBT dari dalam
negeri muncul ketika terlibat tindak kriminal. Model berita ini rentan terjadi
pelanggaran etik, cenderung tidak berimbang,” kata Ketua Bidang Perempuan
dan Kelompok Marjinal AJI Indonesia Yekthi Hesthi Murthi, menegaskan.
Merujuk pada hasil
pemetaan awal pemberitaan, maka diperlukan pemahaman secara mendalam kepada
wartawan atau penulis terkait  etika penulisan kelompok minoritas (LGBT)
dalam berita. “Ini untuk menghindari kekerasan simbolik media karena sering
muncul diksi-diksi dalam pemberitaan yang tidak sensitive terhadap kondisi
kelompok LGBT,” katanya, “Bagaimanapun media mempunyai peran advokasi
terhadap kelompok minoritas dan terdiskriminasi.”
Hadir dalam editor
meeting ini dua pembicara, Dede Oetomo (Gaya Nusantara) serta Rr. Agustine dari
Ardhanary Institute. Agustine meminta media tidak berperan sebagai polisi moral
ketika memberitakan LGBT. “Cukup sajikan fakta tanpa embel-embel yang
merugikan,” katanya.(Iman Firdaus)

About admin

Check Also

Aboe Bakar Al HAbsyi Anggota Komisi III DPR RI FPKS

Kerusahan Lapas Jambi, Aboe Bakar desak tindak tegas pelakunya

KABAR PARLEMEN.com, Jakarta – Kericuhan telah terjadi di Lapas Klas II A Jambi, Rabu (1/3/2017) …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *