Home / DPR / Salim Mengga, Keris dan Bahasa Mandar
Salim

Salim Mengga, Keris dan Bahasa Mandar

Politisi Partai Demokrat, Salim Mengga. Foto : Kabarparlemen.com/Yayat R. Cipasang.
Politisi Partai Demokrat, Salim Mengga. Foto : Kabarparlemen.com/Yayat R. Cipasang.

JAKARTA, KABARPARLEMEN.COM- Sejumlah anggota DPR baru saja merampungkan resesnya. Selalu ada pengalaman baru atau ada juga kesan rutin dari hasil pulang kampung anggota dewan setelah hampir dua pekan menengok daerah pemilihannya. Begitu juga anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrat Salim Mengga, selain kunker juga menengok koleksi kerisnya.

Anggota Komisi  I asal Sulawesi  Barat ini pada  “Pameran Keris Nusantara” 2015 sempat memamerkan  lima  dari 60 keris koleksinya. Karena keterbatasan tempat, Salim Mengga hanya dapat mempertunjukkan lima keris khas Bugis.

Sampai sekarang anggota DPR peraih 51.168 suara dalam Pemilu 2014 ini masih terus berburu keris. Bagaimana soal harga keris dan kapan rencana membuat museum di daerah asalnya dituturkan sangat rinci dalam perbincangan dengan Yayat R Cipasang dari KabarParlemen.com.

Sejak kapan Anda mengoleksi keris?

Sudah lama ya. Saya mulai tertarik dan mengumpulkan keris ini sejak masih letnan dua. Sampai sekarang jumlahnya sudah mencapai  60-an termasuk pedang.

Anda punya pedang. Apa keistimewaannya?

Pedang itu dari Jawa. Menurut saya pedang itu sangat istimewa. Pedang dari zaman Kerajaan Singosari  namanya Lar Bango. Panjangnya 76 sentimeter. Cukup panjang. Yang saya ketahui pedang itu berasal dari zaman Singosari dan kelihatannya untuk perang. Secara keseluruhan pedang itu masih utuh namun di beberapa bagian ada yang sudah kemakan usia.

Koleksi lainnya yang berkesan?

Lebih banyak keris. Ada yang berasal dari Jambi, ada dari Jawa, Madura dan Sulawesi. Saya mencari sendiri. Informasinya bisa dari mulut ke mulut. Memang ada jaringan dan biasanya kita berkumpul. Tapi saya tidak ikut dalam komunitas.

Bagaimana menguji sebuah keris yang diperoleh itu asli atau palsu?

Ya, dibawa ke ahlinya. Mereka sangat tahu keris itu asli atau palsu. Riwayatnya pun dapat dirunut.

Saya dengar Anda tidak mau kalau diberi hadiah keris?

Saya tidak akan terima keris untuk koleksi dari hadiah. Tidak akan bagus. Pamornya mungkin saja indah tapi nilai sejarahnya tidak ada.

Berapa harga termahal keris yang Anda koleksi?

Harganya tergantung. Harga keris itu relatif. Sama dengan batu permata. Kalau Anda senang harga ratusan juta pun bisa dibeli. Nilai sejarahnya tinggi tentu harganya juga mahal.

Penilaian Anda tentang keris yang dibuat mpu belakangan ini?

Dalam beberapa hal sehebat apapun mpu sekarang ada yang tidak bisa menyamai mpu keris zaman dulu. Misalnya keris tua itu rata-rata ringan.

Menurut sepengetahun Anda apa rahasianya keris zaman dulu sangat ringan?

Kelihatannya ada yang beda di logam. Orang dulu itu bikin keris menggunakan logam-logam pilihan.

Anda percaya dengan nilai mistik keris?

Kalau saya lebih dekat ke budaya. Ya, memang mpu zaman dulu untuk membuat keris pun melakukan tirakatan dulu untuk kesempurnaan keris yang dibuatnya. Juga untuk memberikan wibawa atas kerisnya.

Kapan waktu-waktu khusus Anda untuk keris?

Saya tiap hari melihat keris kalau lagi di rumah. Tiap hari saya periksa. Keris yang sudah lama tidak dibuka saya buka dan periksa untuk melihat kondisinya jangan sampai ada karat. Itu hiburan saya kalau di rumah.

Punya rencana lain?

Saya inginnya membuat museum untuk menyimpan keris dan koleksi  lainnya di Sulawesi Barat.

Seberapa penting keris-keris ini untuk bangsa Indonesia?

Tentu sangat penting. Benda seni  bersejarah kita seperti keris banyak yang hilang. Hilang karena kita tidak peduli. Benda seni kita ini lebih dihargai bangsa asing daripada bangsa  sendiri.

Harus sering digelar pameran dengan harapkan dapat memotivasi masyarakat Indonesia untuk mencari  dan menyimpan keris. Ini pentingnya pameran. Dapat memotivasi dan menginspirasi.

Kalau bisa pameran keris ini digelar setahun dua kali. Keris-keris bagus milik kita ini ada yang sudah tersimpan di  Singapura, Brunei, Jerman, Belanda, Amerika dan di beberapa pusat senia dunia. Masyarakat dunia menyenangi keris kita. Bangsa kita saja yang abai.

Saya berharap pameran dimanapun dapat memotivasi orang yang tidak menyukai keris dapat mencintai dan mengoleksinya. Minimal setiap orang punya dua keris.

Sampai kapan Anda akan mencari keris untuk dikoleksi?

Saya akan terus mencari. Ada beberapa pamor yang belum saya temukan. Di antaranya pamor seperti relief. Relief ini muncul dalam bentuk gambar. Sebelumnya sudah saya lihat hanya belum kesampaian bertemu dengan pemiliknya. Termasuk belum sepakat soal  harganya. Rupanya dia tahu harga juga. Hahahaha….

Saya pernah baca, Anda termasuk yang gundah dengan keberadaan bahasa Mandar di Sulawesi Barat. Anda masih gundah sampai sekarang?

Sangat memprihatinkan. Sudah lama saya mengimbau bupati-bupati  untuk memasukkan bahasa daerah ke dalam kurikulum di sekolah-sekolah. Ciri dari beragamnya bangsa itu kan bisa dilihat dari bahasa. Penguasaan anak-anak muda akan bahasa lokal sangat rendah sekali. Ini jelas memprihatinkan.

Kekhawatiran Anda itu sampai kemungkinan bahasa lokal di Sulbar bisa sampai punah?

UNESCO sudah melaporkan, secara masif bahasa-bahasa daerah banyak yang  punah. Itu benar. Saya rasakan di daerah sendiri di Sulbar. Mereka yang mengunakan bahasa mandar kebanyakan orangtua. Anak-anak muda mana?

Apakah penyebab di beberapa daerah juga berlaku di Sulbar?

Saya kira sama di semua daerah penyebabnya. Tiap hari mereka nonton televisi memakai bahasa Indonesia. Di sekolah bahasa Indonesia. Orangtuanya juga di rumah berkomunikasi memakai bahasa Indonesia. Ditambah lagi dengan serbuan bahasa Inggris dan bahasa lainnya.

Sejauh ini apa tanggapan kepala daerah soal pelestarian bahasa Mandar?

Saya sudah desak kepada-kepala daerah untuk memasukkan bahasa mandar ke dalam muatan lokal. Tapi mereka menjawabnya, susah. Alasannya di  Sulbar ada bahasa Bugis, ada bahasa Jawa dan macam alasan lainnya. Saya langsung debat. Itu nggak masalah. Bukan halangan. Anak saya saja sekolah di  Jawa Barat dipaksa dia belajar bahasa Sunda. Awalnya nilainya 3 atau 4. Nggak apa-apa itu.

Kemudian saya pindah ke Jawa Tengah. Anak saya dipaksa lagi belajar bahasa Jawa karena muatan lokalnya bahasa Jawa. Nggak ada masalah. Harus dipaksa.

Apa akibatnya bila bahasa daerah punah, khususnya bahasa Mandar?

Kalau kita tidak menguasai bahasa daerah dan tidak bangga dengan identitas kita sendiri, siapa lagi yang peduli. Identitas kita itu salah satunya adalah keberagaman dalam bahasa. Kalau kita hanya bisa bahasa Indonesia, keberagaman yang menjadi ciri khas Indonesia tidak ada lagi.***

About admin

Check Also

Tantowi Yahya: Membumikan Pancasila pada WNI di Wellington melalui film LIMA

KABAR PARLEMEN.com, Wellington – Ruang Bali KBRI Wellington , Jumat (26/10) penuh sesak dengan masyarakat …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *